14 September 2007

MASA KEKERINGAN

MASA KEKERINGAN

1 Raja Raja 17 : 1 – 24

Dalam kehidupan kita sering mengalami yang namanya kekeringan. Bisa dalam hal jasmani maupun dalam hal rohani.

Kekeringan dalam hal jasmani misalnya kita sudah bekerja selama bertahun-tahun pada suatu perusahaan tetapi tidak mengalami kenaikan gaji yang memadai dengan kebutuhan hidup yang semakin mahal, kita sudah mencari kerja kesana kemari selama kurun waktu yang cukup lama tetapi belum juga ada perusahaan yang menerima, dll.

Kekeringan dalam hal rohani misalnya kita sudah pelayanan sekian lama tetapi pelayanan kita tidak berkembang. Dipercaya untuk menjadi coordinator sel grup, jumlah jiwa yang digembalakan semakin hari bukan semakin bertambah tetapi mengalami stagnant. Ingin kegiatan kaum muda di gereja menalami kemajuan tetapi setelah berusaha melakukan banyak hal hasilnya sama saja. Setiap hari berdoa tetapi mentok, tidak merasakan hadirat Tuhan, dengerin Firman juga gak ngerti, baca Firman dan merenungkan tetapi tidak ada yang menjadi rhema. Sudah bergumul dalam doa sekian lama tapi tiak ada jawaban doa malah persoalan semakin rumit.

Hari ini kita akan belajar dari seorang tokoh yang mengalami masa-masa kekeringan dalam hidupnya tetapi tokoh ini dapat melewatinya dengan baik dan setelah melewati masa kekeringan dia masuk ke masa penuh kemenangan. Tokoh ini adalah Elia. Kita baca ayatnya pada 1 Raja-raja 17 : 1 – 24.

Elia adalah nabi Tuhan yang penuh urapan. Ketika dia bernubuat kepada raja Ahab bahwa hujan tidak akan turun di Israel karena Israel telah meninggalkan Tuhan dan menyembah kepada berhala maka hal itu terjadi. Tidak saja hujan bahkan embunpun tidak turun. Sehingga diseluruh Israel mengalami kekeringan.

Air adalah kebutuhan pokok manusia. Bila di rumah listrik mati kita bisa pake lilin sebagai penerangan, bila telepon mati kita bisa ke wartel atau berkirim telegram atau surat tapi bila air PDAM mati ? kita tidak bisa menggantinya dengan yang lain.

Hal ini dialami oleh orang Israel selama tiga setengah tahun. Sawah dan ladang tidak dapat ditanami karena tidak ada air. Sungai mulai kering, sumurpun sudah mulai kering. Suatu bencana besar nasional terjadi.

Elia sang abdi Tuhan juga turut merasakan akibat dari kekeringan itu. Karena itu Firman Tuhan mengatakan bahwa kita harus berdoa untuk kesejahteraan kota dimana kita tinggal. Untuk apa ? karena bila kota kita di hukum Tuhan maka kita sebagai orang percaya yang ada didalamya akan merasakan akibatnya juga. Jadi kita semua bertanggung jawab atas kesejahteraan kota kita. Kita bertanggung jawab atas kesejahteraan Indonesia. Karena itu jangan samapi lupa untuk berdoa bagi bangsa dan Negara, bagi masyarakat disekitar kita.

Pertanyaan yang muncul adalah, bila Elia sebagai abdi Tuhan yang penuh urapan juga mengalami kekeringan sama seperti yang dialami oleh orang Israel maka apa bedanya Elia dengan orang Israel yang menyembah baal ? bila kita turut merasakan hukuman yang Tuhan jatuhkan atas kota atau negara kita apa bedanya kita dengan orang yang tidak mengenal Tuhan ?

Elia memang mengalami masa-masa kekeringan seperti orang Israel tetapi penyertaan Tuhan tidak pernah meninggalkannya. Perlindungan dan pertolongan Tuhan selalu ada padanya. Buktinya, pertama dia diberi makan oleh burung gagak, setelah itu dia diberi makan oleh seorang janda. Tuhan bisa memakai banyak cara yang tidak terpikirkan oleh kita untuk melindungi orang-orang yang takut akan Tuhan. Bila saudara takut akan Tuhan, percayalah Tuhan tidak pernah meninggalkamu sekalipun.

Hal yang kita pelajari dari Elia ketika dia berada dalam masa kekeringan :

  1. Taat dan melangkah ( ayat 2 – 6 )

Bahasa Indonesia menuliskan kata taat dengan baik sekali. Taat : T A A T kata ini bila dibaca dari kiri ke kanan maupun dari kanan ke kiri bunyinya tetap sama. Taat artinya melakukan apa yang Tuhan kehendaki sekalipun tidak masuk akal, sekalipun ada resikonya.

Bila kita baca Firman Tuhan, tidak ada nabi yang taat pada perintah Tuhan kemudian dipermalukan. Nuh membangun bahtera diatas gunung selama 120 tahun, dia tidak Tuhan permalukan. Bila Tuhan yang memerintahkan saudara untuk melakukan sesuatu jangan saudara berdebat dahulu dengan Tuhan, lakukan saja, selebihnya urusan Tuhan.

Kita seringkali ingin tahu rencana Tuhan itu apa, kalo lihat film kita ingin tahu tamatnya bagaimana tetapi Tuhan tidak pernah memberi tahu endingnya bagaimana karena Tuhan mau kita hidup karena percaya pada Tuhan bukan karena melihat. Kalo kita sudah tahu ending dari suatu persoalan kita tidak perlu iman lagi. Kita perlu iman karena kita tidak tahu jalan didepan kita seperti apa tapi kita percaya Tuhan akan tuntun kita sampai ke tujuan.

Bila kita melakukan perjalanan di malam hari melewati jalan yang tidak ada penerangannya maka kita hanya melihat jalan yang ada didepan kita sejauh lampu kendaraan kita dapat menerangi, mungkin sekitar 20 m selebihnya gelap, tidak kelihatan apa-apa. Tapi bila kita terus maju maka kita akan sampai ke tujuan karena ketika kita maju maka kita akan melihat jalan sejauh 20 m di depan kita, ketika kita maju lagi kita melihat jalan 20m lagi di depan kita tetapi bila kita diam saja kita tidak pernah tahu ujung jalannya seperti apa karena kita tidak tahu keadaan pada kilometer 1, kilometer 2 dan selanjutnya tetapi bila kita berjalan maka lampu kendaraan kita selalu menerangi jalan didepan kita sejauh 20m. Apapun persoalanmu saat itu tetap taat pada Firman Tuhan. Firman Tuhan adalah lampu yang menerangi jalan kita disaat gelap.

  1. Tidak takut dan kuatir ( ayat 7 – 10 a )

Ketika air sungai kerit menjadi kering, Tuhan sudah mnyiapkan langkah selanjutnya untuk Elia. Tuhan perintahkan Elia pindah ke Sarfat yang terletak di Sidon. Ada alasan yang sangat kuat bagi Elia untuk menolak perintah Tuhan untuk pergi ke Sarfat. Apa bedanya Elia berada di Israel atau di Sarfat ? nyawanya sama – sama terancam. Isebel istri dari raja Ahab adalah putrid dari raja Sidon dan Elia sudah mendatangkan bencana atas Israel dengan mengatakan bahwa hujan dan embun tidak akan turun ditanah Israel. Tentu saja saja sangat murka pada Elia, bila Isebel atau Ahab tahu Elia ada di Sarfat maka Isebel tinggal handphone atau kirim sms ke bapaknya yang raja Sidon untuk membunuh Elia atau untuk mengekstradisi Elia. Tapi Elia tidak mau tunduk pada rasa takut atau kuatirnya. Dia memilih untuk tunduk pada perintah Tuhan. Berapa banyak dari kita mengalami masalah karena kita merasa takut atau kutir untuk sesuatu yang belum terjadi ?

Suatu survey membuktikan bahwa dari 100 hal yang kita kuatirkan hanya 20% yang sungguh-sungguh terjadi yang 80% tidak pernah terjadi dalam hidup kita. Karena itu mengapa kita harus kuatir tentang hal-hal yang belum terjadi ? tuhan tidak memberikan kepada kita roh ketakutan karena dimana ada ketakutan disitu belum terjadi kemerdekaan. Bila Tuhan dipihak kita apa yang perlu kita takuti ?

Firman adalah pelita hidup kita yang menerangi ketika kegelapan datang dan kegelapan tidak pernah menang atas terang. Firman Tuhan adalah pedang Roh, kita bisa menggunakan pedang untuk menangkis serangan musuh dan juga untuk bertahun. Medan peperangan kita adalah di pikiran kita jadi isi pikiran kita dengan Firman Tuhan bukan dengan yang lainnya.

  1. Rendah hati ( ayat 7 – 12 )

Tuhan mengutus Elia ke Sarfat untuk menemui seorang janda yang akan Tuhan pakai untuk memelihara hidupnya. Setelah sampai di Sarfat ternyata janda yang Elia temui bukan janda yang kayu apalagi janda yang masih muda dan cantik tapi seorang janda yang miskin. Seorang janda yang besok sudah bersiap untuk mati karena saking miskinnya dan Tuhan perintahkan Elia untuk minta makan.

Apa yang ada di pikiran Elia ketika mengetahui bahwa janda miskin yang harus menolongnya ? tidak percaya, heran, malu, ragu. Tetapi dalam hal ini Elia belajar memiliki kerendahan hati. Bila beberapa waktu yang lalu Tuhan memakai burung gagak, burung pemakan bangkai untuk memberi Elia makan maka Elia yakin bahwa Tuhan pasti tidak salah memilih janda ini.

Kenapa Tuhan perlu melatih Elia untuk rendah hati ? karena Tuhan akan memakai Elia dengan luar biasa dikemudian hari. Tuhan Yesus semasa di dunia mengatakan, “ Belajarlah daripadaku karena aku ini lemah lembut dan rendah hati. “ kenapa Yesus meminta kita untuk belajar dari-Nya tentang rendah hati ? karena dosa yang pertama ada ialah tinggi hati.

Ketika Lucifer melihat betapa eloknya dirinya maka tinggi hatilah dia dan Tuhan mencampakkannya keluar dari Surga. Kenapa kita harus belajar rendah hati dari Yesus ? Karen Yesus adalah pribadi yang punya posisi dan kuasa tertinggi tetapi mau merendahkan diri menjadi manusia yang paling hina diatas kayu salib. Tidak ada seorangpun yang memiliki posisi yang lebih tinggi dari Yesus jadi tidak ada alasan untuk kita menjadi tinggi hati.

Seringkali kita berpikir bahwa tinggi hati adalah monopoli orang kaya tetapi banyak orang miskin yang ternyata sombong. Menjadi sombong tidak tergantung pada berapa banyak harta yang dimiliki. Abaraham adalah orang yang paling kaya pada jamannya tetapi dia rendah hati.

Kalau saudara ingin tahu apakah saudara tinggi hati atau tidak, tanyakan pada diri saudara sendiri, “Minggu ini berapa kali engkau tersinggung dengan sesamamu ? mungkin engkau tersinggung dengan ucapannya, munkin engkau tersinggung karena tidak disapa ketika ketemu di jala ? mungkin engkau terseinggung karena engkau ulang tahun dan gembalamu lupa untuk memberi selamat ? apapun alasanmu untuk tersinggung itu sudah membuktikan bahwa saudara tinggi hati.

Tuhan tidak pernah memakai orang yang tinggi hati karena Firman Tuhan mengatakan bahwa tinggi hati adalah awal dari keruntuhan. Tidak perlu kita berusaha untuk meninggikan hati kita biarlah peninggian itu datangnya dari Tuhan saja. Kalau Tuhan yang meninggikan kita maka tidak seorangpun yang dapat merendahkan kita. Bila kita yang meninggikan diri maka Tuhan sendiri yang akan merendahkan kita.

  1. Menggunakan prinsip Firman Tuhan ( ayat 11 –16 )

Ada 2 prinsip yang mempengaruhi hidup manusia yaitu prinsip-prinsip yang berusaha dunia tanamkan dipikiran setiap orang bahkan pikiran orang percaya dan prinsip dari kebenaran Firman Tuhan. Prinsip yang dunia tawarkan masuk akal dan mudah diterima tetapi itu tidak membawa kita pada berkat Tuhan. Satu-satunya jalan menuju berkat yang Tuhan telah sediakan adalah bila kita hidup sesuai dengan prinsip-prinsip Firman Tuhan dalam segala segi hidup kita. Dalam hidup keluarga, pekerjaan, pelayanan, bermasyarakat dan lain sebagainya.

Janda ini sedang menyiapkan makanan terakhirnya setelah itu dia dan anaknya akan mati tetapi Elia datang dan mengajarkan kepada janda itu prinsip Firman Tuhan dan ketika janda itu taat maka janda dan anaknya Tuhan pelihara hdupnya sekalipun sebelumnya mereka bukan orang yang mengenal Tuhan.

Salah satu prinsip yang dunia ajarkan adalah bila kita menginginkan sesuatu maka kita harus berusaha mendapakannya. Bila perlu dengan menggunakan segala cara.Bila kita ingin dihormati maka kita harus memiliki kekuasaan kalau perlu kita datang ke dukun minta ajian yang dapat membuat orang merasa segan bila berhadapan dengan kita.

Tetapi Firman Tuhan mengajarkan sesuatu yang sangat berbeda. Apa yang kita ingin orang lain lakukan terhadap kita maka kita harus melakukannya terlebuh dahulu pada oang lain. Bila kita menginginkan sesuatu maka kita harus terlebih dahulu memberikannya pada orang lain. Bila kita ingin dihormati maka kita harus lebih dahulu menghormati orang lain. Bila kita ingin diperhatikan maka kita harus lebih dahulu memperhatikan orang lain. Karena ketika kita mulai memperhatikan sesame kita maka pda saat itu Tuhan sendiri yang akan memperhatikan hidup kita.

  1. Tetap melayani Tuhan ( ayat 17-24 )

Sekalipin sedang mengalami masalah tapi Elia tetap melayani Tuhan. Berapa banyak dari orang percaya kita mengalami masalah malah undur dari Tuhan. Berhenti pelayanan, berhenti ke gereja, berhenti berdoa. Itu adalah keputusan yang salah.

Melayani adalah anugrah bagi kita. Tidak semua orang mendapat kesempatan untuk melayani karena itu jangan pernah menganggap remeh pelayanan yang Tuhan telah percayakn kepada saudara. Ada upah bagi orang yang melayani. Layani Tuhan dan sesame dengan sungguh-sungguh dengan segenap hati. Ketika kita melayani tanpa kita sadari Tuhan sendiri sedang melayani kita. Ketika kita menghibur orang yang berdukacita maka Tuhan sendiri yang akan menghibur duka cita kita. Ketika kita membantu orang lain menyelesaikan masalahnya Tuhan sendiri yang akan turn tangan untuk menyelesaikan masalah kita.