18 October 2008

Tertawa

Sekali tertawa ….. pusing kepala hilang

Dua kali tertawa bencipun hilang

Tiga kali tertawa ….. sahabat datang

Empat kali tertawa ….. penyakit sembuh

Lima kali tertawa ….. jadi awet muda

Enam kali tertawa ….. hati penuh sukacita

Tujuh kali tertawa ….. masalah hilang


sumber : unknow

Labels:

09 October 2008

The Room

Cerita di bawah ini tentang Brian Moore yang berusia 17 tahun, ditulis olehnya sebagai tugas sekolah. Pokok bahasannya tentang sorga itu seperti apa. “Aku membuat mereka terperangah,” kata Brian kepada ayahnya, Bruce. “Cerita itu bikin heboh. Tulisan itu seperti sebuah bom saja. Itulah yang terbaik yang pernah aku tulis.” Dan itu juga merupakan tulisannya yang terakhir.

Orangtua Brian telah melupakan esai yang ditulis Brian ini sampai seorang saudara sepupu menemukannya ketika ia membersihkan kotak loker milik remaja itu di SMA Teays Valley, Pickaway County , Ohio .

Brian baru saja meninggal beberapa jam yang lalu, namun orangtuanya mati-matian mencari setiap barang peninggalan Brian: surat-surat dari teman-teman sekolah dan gurunya, dan PR-nya. Hanya dua bulan sebelumnya, ia telah menulis sebuah esai tentang pertemuannya dengan Tuhan Yesus di suatu ruang arsip yang penuh kartu-kartu yang isinya memerinci setiap saat dalam kehidupan remaja itu. Tetapi baru setelah kematian Brian, Bruce dan Beth, mengetahui bahwa anaknya telah menerangkan pandangannya tentang sorga.

Tulisan itu menimbulkan suatu dampak besar sehingga orang-orang ingin membagikannya. “Anda merasa seperti ada di sana ,” kata pak Bruce Moore. Brian meninggal pada tanggal 27 Mei, 1997, satu hari setelah Hari Pahlawan Amerika Serikat. Ia sedang mengendarai mobilnya pulang ke rumah dari rumah seorang teman ketika mobil itu keluar jalur Jalan Bulen Pierce di Pickaway County dan menabrak suatu tiang. Ia keluar dari mobilnya yang ringsek tanpa cedera namun ia menginjak kabel listrik bawah tanah dan kesetrum.

Keluarga Moore membingkai satu salinan esai yang ditulis Brian dan menggantungkannya pada dinding di ruang keluarga mereka. “Aku pikir Tuhan telah memakai Brian untuk menjelaskan suatu hal. Aku kira kita harus menemukan makna dari tulisan itu dan memetik manfaat darinya,” kata Nyonya Beth Moore tentang esai itu.

Nyonya Moore dan suaminya ingin membagikan penglihatan anak mereka tentang kehidupan setelah kematian. “Aku bahagia karena Brian. Aku tahu dia telah ada di sorga. Aku tahu aku akan bertemu lagi dengannya.”

Inilah esai Brian yang berjudul “Ruangan”.

Di antara sadar dan mimpi, aku menemukan diriku di sebuah ruangan. Tidak ada ciri yang mencolok di dalam ruangan ini kecuali dindingnya penuh dengan kartu-kartu arsip yang kecil. Kartu-kartu arsip itu seperti yang ada di perpustakaan yang isinya memuat judul buku menurut pengarangnya atau topik buku menurut abjad.

Tetapi arsip-arsip ini, yang membentang dari dasar lantai ke atas sampai ke langit-langit dan nampaknya tidak ada habis-habisnya di sekeliling dinding itu, memiliki judul yang berbeda-beda.

Pada saat aku mendekati dinding arsip ini, arsip yang pertama kali menarik perhatianku berjudul “Cewek-cewek yang Aku Suka”. Aku mulai membuka arsip itu dan membuka kartu-kartu itu. Aku cepat-cepat menutupnya, karena terkejut melihat semua nama-nama yang tertulis di dalam arsip itu. Dan tanpa diberitahu siapapun, aku segera menyadari dengan pasti aku ada dimana.

Ruangan tanpa kehidupan ini dengan kartu-kartu arsip yang kecil-kecil merupakan sistem katalog bagi garis besar kehidupanku. Di sini tertulis tindakan-tindakan setiap saat dalam kehidupanku, besar atau kecil, dengan rincian yang tidak dapat dibandingkan dengan daya ingatku. Dengan perasaan kagum dan ingin tahu, digabungkan dengan rasa ngeri, berkecamuk di dalam diriku ketika aku mulai membuka kartu-kartu arsip itu secara acak, menyelidiki isi arsip ini. Beberapa arsip membawa sukacita dan kenangan yang manis; yang lainnya membuat aku malu dan menyesal sedemikian hebat sehingga aku melirik lewat bahu aku apakah ada orang lain yang melihat arsip ini.

Arsip berjudul “Teman-Teman” ada di sebelah arsip yang bertanda “Teman-teman yang Aku Khianati”. Judul arsip-arsip itu berkisar dari hal-hal biasa yang membosankan sampai hal-hal yang aneh. “Buku-buku Yang Aku Telah Baca”. “Dusta-dusta yang Aku Katakan”. “Penghiburan yang Aku Berikan”. “Lelucon yang Aku Tertawakan”. Beberapa judul ada yang sangat tepat menjelaskan kekonyolannya: “Makian Buat Saudara-saudaraku”.

Arsip lain memuat judul yang sama sekali tak membuat aku tertawa: “Hal-hal yang Aku Perbuat dalam Kemarahanku.”, “Gerutuanku terhadap Orangtuaku”. Aku tak pernah berhenti dikejutkan oleh isi arsip-arsip ini. Seringkali di sana ada lebih banyak lagi kartu arsip tentang suatu hal daripada yang aku bayangkan. Kadang-kadang ada yang lebih sedikit dari yang aku harapkan. Aku terpana melihat seluruh isi kehidupanku yang telah aku jalani seperti yang direkam di dalam arsip ini.

Mungkinkah aku memiliki waktu untuk mengisi masing-masing arsip ini yang berjumlah ribuan bahkan jutaan kartu? Namun setiap kartu arsip itu menegaskan kenyataan itu. Setiap kartu itu tertulis dengan tulisan tanganku sendiri. Setiap kartu itu ditanda-tangani dengan tanda tanganku sendiri.

Ketika aku menarik kartu arsip bertanda “Pertunjukan- pertunjukan TV yang Aku Tonton”, aku menyadari bahwa arsip ini semakin bertambah memuat isinya. Kartu-kartu arsip tentang acara TV yang kutonton itu disusun dengan padat, dan setelah dua atau tiga yard, aku tak dapat menemukan ujung arsip itu. Aku menutupnya, merasa malu, bukan karena kualitas tontonan TV itu, tetapi karena betapa banyaknya waktu yang telah aku habiskan di depan TV seperti yang ditunjukkan di dalam arsip ini.

Ketika aku sampai pada arsip yang bertanda “Pikiran-Pikiran yang Ngeres”, aku merasa merinding di sekujur tubuhku. Aku menarik arsip ini hanya satu inci, tak mau melihat seberapa banyak isinya, dan menarik sebuah kartu arsip. Aku terperangah melihat isinya yang lengkap dan persis. Aku merasa mual mengetahui bahwa ada saat di hidupku yang pernah memikirkan hal-hal kotor seperti yang dicatat di kartu itu. Aku merasa marah.

Satu pikiran menguasai otakku: Tak ada seorangpun yang boleh melihat isi kartu-kartu arsip in! Tak ada seorangpun yang boleh memasuki ruangan ini! Aku harus menghancurkan arsip-arsip ini! Dengan mengamuk bagai orang gila aku mengacak-acak dan melemparkan kartu-kartu arsip ini. Tak peduli berapa banyaknya kartu arsip ini, aku harus mengosongkannya dan membakarnya. Namun pada saat aku mengambil dan menaruhnya di suatu sisi dan menumpuknya di lantai, aku tak dapat menghancurkan satu kartupun. Aku mulai menjadi putus asa dan menarik sebuah kartu arsip, hanya mendapati bahwa kartu itu sekuat baja ketika aku mencoba merobeknya. Merasa kalah dan tak berdaya, aku mengembalikan kartu arsip itu ke tempatnya. Sambil menyandarkan kepalaku di dinding, aku mengeluarkan keluhan panjang yang mengasihani diri sendiri.

Dan kemudian aku melihatnya. Kartu itu berjudul “Orang-orang yang Pernah Aku Bagikan Injil”. Kotak arsip ini lebih bercahaya dibandingkan kotak arsip di sekitarnya, lebih baru, dan hampir kosong isinya. Aku tarik kotak arsip ini dan sangat pendek, tidak lebih dari tiga inci panjangnya. Aku dapat menghitung jumlah kartu-kartu itu dengan jari di satu tangan. Dan kemudian mengalirlah air mataku. Aku mulai menangis. Sesenggukan begitu dalam sehingga sampai terasa sakit. Rasa sakit itu menjalar dari dalam perutku dan mengguncang seluruh tubuhku. Aku jatuh tersungkur, berlutut, dan menangis. Aku menangis karena malu, dikuasai perasaan yang memalukan karena perbuatanku. Jajaran kotak arsip ini membayang di antara air mataku. Tak ada seorangpun yang boleh melihat ruangan ini, tak seorangpun boleh.

Aku harus mengunci ruangan ini dan menyembunyikan kuncinya. Namun ketika aku menghapus air mata ini, aku melihat Dia.

Oh, jangan! Jangan Dia! Jangan di sini. Oh, yang lain boleh asalkan jangan Yesus! Aku memandang tanpa daya ketika Ia mulai membuka arsip-arsip itu dan membaca kartu-kartunya. Aku tak tahan melihat bagaimana reaksi-Nya. Dan pada saat aku memberanikan diri memandang wajah-Nya, aku melihat dukacita yang lebih dalam dari pada dukacitaku. Ia nampaknya dengan intuisi yang kuat mendapati kotak-kotak arsip yang paling buruk.

Mengapa Ia harus membaca setiap arsip ini? Akhirnya Ia berbalik dan memandangku dari seberang di ruangan itu. Ia memandangku dengan rasa iba di mata-Nya. Namun itu rasa iba, bukan rasa marah terhadapku. Aku menundukkan kepalaku, menutupi wajahku dengan tanganku, dan mulai menangis lagi. Ia berjalan mendekat dan merangkulku. Ia seharusnya dapat mengatakan banyak hal. Namun Ia tidak berkata sepatah katapun. Ia hanya menangis bersamaku.

Kemudian Ia berdiri dan berjalan kembali ke arah dinding arsip-arsip. Mulai dari ujung yang satu di ruangan itu, Ia mengambil satu arsip dan, satu demi satu, mulai menandatangani nama-Nya di atas tanda tanganku pada masing-masing kartu arsip. “Jangan!” seruku bergegas ke arah-Nya. Apa yang dapat aku katakan hanyalah “Jangan, jangan!” ketika aku merebut kartu itu dari tangan-Nya. Nama-Nya jangan sampai ada di kartu-kartu arsip itu. Namun demikian tanpa dapat kucegah, tertulis di semua kartu itu nama-Nya dengan tinta merah, begitu jelas, dan begitu hidup. Nama Yesus menutupi namaku. Kartu itu ditulisi dengan darah Yesus! Ia dengan lembut mengambil kembali kartu-kartu arsip yang aku rebut tadi. Ia tersenyum dengan sedih dan mulai menandatangani kartu-kartu itu. Aku kira aku tidak akan pernah mengerti bagaimana Ia melakukannya dengan demikian cepat, namun kemudian segera menyelesaikan kartu terakhir dan berjalan mendekatiku. Ia menaruh tangan-Nya di pundakku dan berkata, “Sudah selesai!”

Aku bangkit berdiri, dan Ia menuntunku ke luar ruangan itu. Tidak ada kunci di pintu ruangan itu. Masih ada kartu-kartu yang akan ditulis dalam sisa kehidupanku.


“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16)


Jika anda ingin meneruskan pesan ini kepada sebanyak mungkin orang-orang sehingga kasih Tuhan Yesus akan menjamah hidup mereka, forwardlah email ini! Arsip “Orang-Orang yang Aku Bagikan Injil” milikku akan makin bertambah besar, bagaimana dengan milik anda?

JIKA ADA EMAIL YANG PERNAH AKU BACA YANG PERLU BERKELILING DUNIA, INILAH SALAH SATUNYA! TERUSKANLAH KEPADA ORANG-ORANG YANG ANDA KENAL! MARILAH KITA PENUHI ARSIP KITA DENGAN HAL-HAL KEKAL DAN TUHAN MEMBERKATI ANDA! (Diterjemahkan oleh Hadi Kristadi untuk http://pentas- kesaksian. blogspot. com - mohon jangan dihilangkan/ didelete ketika anda memforwardnya)

Labels: ,

20 September 2008

Tidak Bersungut-sungut

“ Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan ! Sekali lagi kukatakan : Bersukacitalah ! hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat ! Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus. “ ( Filipi 4 : 4 – 7 )

Kata “ bersukacita “ merupakan klimaks daripada pertumbuhan rohani kita. Permulaan akan sukacita diawali dari iman yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Karena dengan imanlah maka segala ketakutan, kecemasan dan kekuatiran akan hilang. Tuhan memberikan iman dan Dia juga melengkapi kita dengan pengharapan supaya kita bersikap optimis untuk melihat masa depan yang penuh dengan keberhasilan dan Dia melengkapi kita dengan kasih yang mana sebagai manifestasinya adalah sukacita. Lawan daripada bersukacita adalah bersungut-sungut. Bangsa Israel adalah bangsa yang dicintai, dikasihi, dibimbing dan diberkati Tuhan namun tetap bersungut-sungut setiap hari. Walaupun banyak mujijat yang telah mereka lihat tetapi ucapan syukur tidak pernah keluar dari mulut mereka, baca Keluaran 14 : 11 “ Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini ? Apakah yang kau perbuat ini terhadap kami dengan membawa kami keluar dari Mesir ?” Seharusnya bangsa Israel tidak bersungut-sungut atau menggerutu saat menghadapi persoalan; tetapi mereka harus berdoa kepada Tuhan. Memang saat itu bangsa Israel menghadapi jalan buntu, tetapi Tuhan tidak tinggal diam. Tuhan memerintahkan Musa untuk mengangkat tongkatnya sehingga seluruh orang Mesir yang sedang mengejar terkubur dalam laut Teberu ( disaksikan tiga juta orang ).

Ternyata, dengan berbagai mujijat yang terjadi tidak cukup untuk mengubah sikap bangsa Israel untuk tidak bersungut-sungut tetapi justru semakin menjadi-jadi. Oleh karena itu, melalui sikap daripada bangsa Israel telah tampak bahwa mereka senang hidup dalam perhambaan, tindakan maupun tekanan daripada menjadi orang merdeka.

Saudara, apabila kita membaca pada ayat maupun pasal berikutnya,maka kita hanya mendapatkan persunguta demi persungutan yang dilakukan oleh bangsa Israel. Mereka tidak sadar bahwa yang mereka lakukan telah membuat mereka tidak pernah memiliki apa yang disebut dengan sukacita. Selain itu, dalam keadaan yang demikian, mereka malah berani melawan Tuhan dengan membuat patung anak lembu emas untuk disembah, tatkala Musa sedang berdoa di atas gunung untuk bersekutu serta mencari kehendak Tuhan. Bangsa Israel tidak sabar saat menantikan Musa untuk turun dari gunung.

Bukankah hal demikian juga sering dilakukan oleh orang Kristen, yang mana kerapkali tidak sabar dalam menantikan musim menuai ( janji Tuhan untuk digenapi dalam kehidupan mereka ), justru sikap bersungut-sungut atau menggerutu yang sering dilakukan saat menghadapi tantangan. Oleh sebab itu, melalui kisah diatas biarlah menjadi pelajaran dalam kehidupan kita, yaitu supaya kita tidak bersikap seperti yang bangsa Israel lakukan.

Kata-kata pujian, tidak cukup hanya ada dibenak kita saja; kita harus mengekspresikannya. Ada ungkapan lama yang mengatakan : “Cinta bukanlah cinta sampai ia diucapkan. “ Jangan mau jadi penerima saja; tetapi jadilah seorang pemberi. Apabila anda menanggalkan masalah pribadimu dan mulai membantu orang lain, maka anda menjadi tidak kuatir akan kebutuhanmu. Sesuatu yang ajaib terjadi manakala kita tidak berfokus pada diri sendiri, melainkan kepada kebutuhan orang-orang disekeliling kita. ( Amsal 31 : 9 )

Sumber : Buku Panduan DOa Puasa 40 Hari dengan tema HARVEST TIME

Labels:

14 September 2008

Penguasaan DIri / Ketaatan

"Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus (1 Korintus 11:1)

Kata "jadilah pengikut" berarti Paulus, ia ingin setiap orang yang diajarnya meneladani pribadi Kristus. Paulus tetap rendah hati dalam mengikuti Kristus, walaupun ia memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi dibanding dengan dengan orang lain. Ia menyadari bahwa dihadapan Tuhan dirinya tidak ada apa-apanya. Ada dua hal yang ditemukan Paulus dalam diri Tuhan Yesus yang memang patut untuk diteladani, yakni:

Penguasaan Diri. Yesus memulai pelayananNya di bumi ini, ia telah belajar mengenai penguasaan diri. Salah satu contohnya, yaitu: tatkala ia dicobai oleh iblis di padang gurun sebanyak tiga kali, Ia telah sanggup mengalahkan cobaan itu. KesanggupanNya dalam mengalahkan cobaan itu dikarenakan ia telah belajar akan penguasaan diri, yaitu melalui puasa selama 40 hari (Matius 4:1-11). Memang Yesus itu lahir dari Roh, tetapi Ia terdiri dari daging juga. Tuhan Yesus mengerti bahwa dengan penguasaan diri, maka cobaan iblis yang memancing hawa nafsuNya untuk melakukan dosa dapat dikalahkan. Dan perlu kita tahu bahwa Roh Allah dapat bekerja dengan leluasa apabila penguasaan diri ada dalam diri kita dan keinginan daging telah dilakukan. Roh Allah tidak bekerja secara luar biasa bukan karena metode atau program yang kurang bagus, tetapi semuanya itu disebabkan oleh karena kita masih hidup dalam kedagingan dan hawa nafsu. Oleh karena itu, saat kita sedang berpuasa untuk melatih penguasaan diri kita, maka Roh Allah itu akan muncul dan bekerja secara luar biasa. Sebab semakin kita hidup dalam penguasaan diri maka Roh Allah semakin muncul dalam kehidupan kita dan kuasa Tuhan akan bekerja tanpa batas. Apabila kita menggunakan pedoman penguasaan diri maka segala karunia buah-buah Roh Kudus akan muncul dengan subur. Dan apa artinya kita berpendidikan tinggi tanpa adanya penguasaan diri dalam hidup kita.

Taat terhadap kehendak Tuhan (Obey the Lord). Manusia pertama kali jatuh dalam dosa disebabkan karena ketidaktaatan terhadap kehendak Tuhan. Tetapi disini kita akan belajar dari pemimpin agung kita yaitu Tuhan Yesus mengenai ketaatan. Sejauh mana ketaatan daripada Tuhan Yesus mengenai ketaatan. Sejauh mana ketaatan daripada Tuhan Yesus terhadap Bapa? Ketaatan Tuhan Yesus terhadap Bapa adalah sampai kematianNya diatas kayu salib, seperti yang tertulis dalam Filipi 2: 5-11. Memang secara manusia, Tuhan Yesus tidak sanggup menghadapi pergumulan yang sedang Ia jalani yaitu harus mengalami penderitaan yang berat, bahkan sampai mati di atas kayu salib. Karena terlalu beratnya penderitaan yang Ia tanggung, sampai Tuhan Yesus berdoa sebanyak tiga kali dengan kata-kata yang sama seperti yang tertulis dalam Matius 26:39. Tetapi oleh karena ketaatanNya, Ia menyerahkan sepenuhnya ke dalam tangan Bapa, walaupun berat rasanya untuk dapat menanggung semua penderitaan itu. Dan pada akhirnya Ia ditinggikan dan diberi kuasa baik di bumi maupun di Surga.

Melalui penjelasan diatas, marilah kita senantiasa belajar hidup dalam penguasaan diri dan taat terhadap kehendak Tuhan, supaya kita tetap berkenan di hadapan Tuhan dan pelayanan kita tidak sia-sia. Amin.


Jangan menjadi orang yang hidupnya berpusat pada diri sendiri, maka anda tidak saja sedang kehilangan yang terbaik dari Tuhan, tetapi juga anda sedang merampas sukacita dan berkat orang lain yang Tuhan titipkan melalui anda. Memang mudah mengkritik dan menyalahkan atau menunjuk kesalahan orang lain. Tetapi Tuhan ingin kita memotivasi mereka, menjadi berkat, mengucapkan kata-kata iman dan kemenangan kedalam hidup mereka. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memberikan pujian kepada seseorang? (Ibrani 3:13)

Sumber : Buku DOa Puasa 40 Hari ( HARVEST TIME )

Labels: ,

11 September 2008

Benih yang Kau Tanam Harus Mati

“Aku berkata kepadamu: sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh kedalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah” (Yohanes 12:24)


Saat Yesus menggunakan ilustrasi mengenai sebuah benih yang jatuh ke tanah, sesungguhnya Yesus sedang memberitahukan kematianNya yang akan datang dan buah yang akan dihasilkan dari pengorbananNya. Benih yang ditanam harus mati dulu sebelum menghasilkan benih yang berlipat ganda, kita akan berbuah hanya jika kita mau berkorban. Seperti janda Sarfat yang memberikan dari kekurangannya namun akhirnya diberi kelimpahan (1 Raja-raja 17:7-16). Ditengah-tengah resesi, dimana tanah menjadi kering dan gandum tidak ada lagi, janda ini mempunyai makanan hanya untuk hari ini, yang sesudah ia dan anaknya memakannya, mereka akan mati. Tuhan terkesan dengan pemberian janda itu karena Ia melihat hati yang sepenuhnya percaya kepada Tuhan sebagai pemeliharanya. Banyak orang yang hidup dalam kemiskinan atau pas-pasan yang tidak berani untuk memberi karena takut kekurangan pada akhir bulan.

Sekalipun saudara masih berkekurangan jangan hal itu menhambat saudara untuk tetap menabur. Walau dengan keadaan yang kurang tetaplah menabur. Kalau kita hanya memperhatikan keadaan kita maka kita tidak akan pernah mau menabur, saudara tidak akan berani memberikan perpuluhan atau korban saudara (pengkotbah 11:4, “Siapa senantiasa memperhatikan angin tidak akan menabur; dan siapa senantiasa melihat awan tidak akan menuai”). Saudara mungkin berpikir, Tuhan apa yang hendak Engkau lakukan terhadap kami? Mengapa kami harus memberi disaat kami kekurangan dan tidak mempunyai apa-apa?” Jangan engkau memandang keadaan sekitarmu apabila engkau menabur. Sebab tuaian yang besar ada di hadapan kita.

Sejalan dengan pertumbuhan iman, kita juga harus menabur dalam pekerjaan Tuhan. Dan apa yang kita tabur tidak harus selalu berupa uang atau harta, tetapi bisa juga waktu, tenaga, pikiran atau hal-hal yang lain. Yang jelas yang kita tabur adalah sesuatu yang dapat mendukung dalam pekerjaan Tuhan. Saudara dapat menabur di gereja atau di persekutuan-persekutuan doa, memberi pada orang miskin, bahkan apabila saudara memindahkan seseorang dari kegelapan masuk dalam terang Allah, saudara telah menabur. Segala sesuatu yang sudah kita tabur jangan kita ungkit-ungkit, sebab kalau tidak demikian maka apa yang kita tabur akan sia-sia. Memang saat kita menabur tidak selalu lancar, kadang-kadang saat kita menabur disertai air mata, seperti yang firman Tuhan katakan:”Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai denga bersorak-sorai…(Mazmur 126:5-6). Tetapi perlu kita ingat, bahwa apa yang kita tabur tidak akan sia-sia, tetapi akan kembali berlipat ganda bahkan sampai seratus kali lipat sesuai dengan pertumbuhan iman kita.

Untuk itu janganlah kita putus asa, sebab apa yang tidak pernah kita dengar ataupun kita lihat, bahkan apa yang tidak pernah timbul dalam hati kita, semuanya akan disediakan Allah. Dengan demikian, maka kita akan disebut orang yang berhasil, bahagia an penuh dengan damai sejahtera.


Yesus mendorong murid-murid untuk memperbesar visinya: “Engkau tidak dapat menaruh anggur yang baru kedalam kirbat anggur yang lama.” Yesus berkata bahwa anda tidak dapat mencapai kehidupan yang hebat dengan sikap seadanya. Pelajaran tersebut tetap relevan sampai hari ini. Kita ditentukan oleh kebiasaan kita, dipengaruhi oleh perspektif kita dan terbentur oleh cara berpikir kita. TUHAN sedang mencoba sesuatu yang baru, namun apakah kita bersedia berubah, bersedia memperluas dan memperbesar visi kita; kalau tidak, kita akan kehilangan kesempatan dariNya (Lukas 5:37-38)

Sumber : Buku Panduan DOa Puasa 40 Hari ( Tema HARVEST TIME )

Labels: , , ,